Kategori
Tak Berkategori

Volta bekerja sama dengan ITDC pasok motor listrik di Bali

 62 total views

Volta, anak usaha PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) yang menjalankan bisnis kendaraan listrik, telah menandatangani kerja sama dengan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) untuk menyediakan layanan sewa motor listrik di Bali.

Kerja sama tersebut juga mencakup layanan untuk The Nusa Dua Bali, kawasan pariwisata terintegrasi yang dikelola oleh ITDC. Dalam kerja sama ini, ITDC menyediakan lahan dan Volta menyediakan armada motor listrik.

Dalam keterangan resminya, Volta menyediakan armada yang telah dilengkapi dengan teknologi Internet of Things (IoT) yang terintegrasi. Dengan teknologi ini, penyewa kendaraan bermotor dapat mengakses layanan Volta secara mudah.

link

https://www.idnfinancials.com/id/news/45002/volta-itdc-supply-electric-motorcycles-bali

Kategori
Tak Berkategori

Inalum dan MIND ID Berpisah Tahun Ini

 588 total views

Proses pemisahan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dari holding pertambangan MIND ID sudah mendapat restu pemerintah.

Direktur Utama Holding MIND ID Hendi Prio Santoso mengungkapkan dengan izin tersebut diharapkan bisa beroperasi pada tahun ini.

“Insya Allah split off dari Inalum operating akan berjalan tahun ini. Kita baru dapat sinyal bahwa izin prakarsa sudah disetujui oleh pemerintah,” kata Hendi dalam rapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (25/5/2022).

Baca artikel detikfinance, “Dapat Restu, Inalum dan MIND ID Berpisah Tahun Ini” selengkapnya https://finance.detik.com/energi/d-6095751/dapat-restu-inalum-dan-mind-id-berpisah-tahun-ini.

Kategori
Tak Berkategori

Grup MIND ID Diprediksi Masih Bisa Tumbuh 6%

 408 total views

BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID, atau Mining Industry Indonesia, yang beranggotakan PT ANTAM Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Inalum (Persero) dan PT Timah Tbk, mencatat realisasi kinerja yang positif di sepanjang 2021. Perekonomian global merespons lebih positif atas kondisi pandemi yang lebih terkendali pada tahun lalu.

Praktisi dan Pengamat Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo mengungkapkan kinerja masing-masing emiten membaik pada tahun lalu, salah satunya karena sudah menjadi holding. Namun selain hal tersebut, emiten pertambangan memang telah diuntungkan dengan adanya kenaikan harga komoditas sektor pertambangan.

Sehingga menurut Lucky kinerja BUMN Holding Pertambangan ini masih mungkin untuk bertumbuh setidaknya hingga 6%.

link https://investor.id/business/294022/grup-mind-id-diprediksi-masih-bisa-tumbuh-setidaknya-6rnrnnbsp

Kategori
Tak Berkategori

Industri Baterai Indonesia Dapat Rp 215 T dari Cina dan Korea – Kata Luhut

 306 total views,  2 views today

PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) mengantongi investasi US$ 15 miliar atau sekitar Rp 215 triliun dari dua kemitraan yang dijalin untuk mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik di Tanah Air.

Pertama adalah kemitraan yang dijalin salah satu induk usaha IBC, yakni PT Aneka Tambang Tbk. dengan korporasi asal Cina PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) untuk inisiatif proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi.

Kemitraan kedua adalah perjanjian serupa dengan LG Energy Solution, perusahaan asal Korea Selatan.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan langkah ini merupakan pijakan baru bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama di industri baterai kendaraan listrik. “Ini merupakan langkah penting bagi Indonesia untuk menjadi salah satu pemain industri baterai terbesar di dunia,” ujar Luhut dalam keterangan tertulis, Senin, 18 April 2022.

Direktur Utama IBC Toto Nugroho mengatakan kemitraan strategis ini akan memacu percepatan pembangunan ekosistem kendaraan listrik berkelanjutan yang diyakini mampu membangkitkan gairah industri otomotif ramah lingkungan.

“Dengan adanya industri baterai terintegrasi ini, diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekosistem electric vehicle,” kata Toto.

Dia menambahkan, dalam jangka panjang lini bisnis yang akan dikembangkan oleh perseroan sejalan dengan adanya kemitraan ini bakal lebih luas, yakni tidak hanya berdampak pada industri baterai dari hulu hingga hilir.

“Ini diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekosistem electric vehicle, membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan TKDN, serta meningkatkan penggunaan baterai untuk kebutuhan lainnya,” ujarnya.

link https://bisnis.tempo.co/read/1583428/kata-luhut-soal-industri-baterai-indonesia-dapat-rp-215-t-dari-cina-dan-korea/full&view=ok

Kategori
Tak Berkategori

EMI Kembangkan Kendaraan Listrik dan Ekosistemnya di Indonesia

 166 total views

Electra Mobilitas Indonesia (EMI), semangat Indika Energy Group untuk mendukung penurunan emisi di tanah air melalui pengembangan industri kendaraan listrik nasional dan ekosistem pendukungnya.

Pada 30 Oktober mendatang, Indonesia akan menjadi tuan rumah G20 Summit yang mengangkat tema “Recover Together, Recover Stronger”. Salah satu isu utama yang akan dibahas dalam ajang Presidensi yang akan digelar di Bali tersebut adalah transisi energi berkelanjutan, dalam upaya mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih, dan mempromosikan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

Dalam transisi energi berkelanjutan, salah satu fokus di dalamnya adalah upaya menekan angka emisi di Indonesia. Penggunaan kendaraan listrik pun kini ramai diperbincangkan sebagai salah satu solusi. Memang, penggunaan kendaraan di Indonesia saat ini masih didominasi oleh kendaraan berbahan bakar fosil. Namun perlahan kendaraan listrik mulai mengambil hati pasar meski faktor harga yang masih relatif tinggi.

Faktor utama yang membuat harga kendaraan listrik masih terhitung mahal adalah komponen baterai, jika harga baterai bisa ditekan, maka prospek kendaraan listrik juga semakin cerah. Indonesia sendiri memiliki keunggulan yang besar terkait hal tersebut dan berpotensi menjadi salah satu pemain utama di era kendaraan listrik, salah satu keunggulannya yaitu ketersediaan bahan baku baterai berupa nikel, di mana Indonesia menguasai sekitar 23 persen cadangan nikel dunia. Baterai yang menggunakan nikel memiliki keunggulan karena memiliki densitas energi yang lebih tinggi sehingga cocok digunakan untuk kendaraan listrik.

Upaya percepatan transisi energi menuju sumber energi yang lebih bersih, serta mempromosikan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif sebagai salah satu perhatian utama Presidensi G20 yang juga sejalan dengan komitmen Indika Energy untuk mendiversifikasi pendapatan dengan target 50% berasal dari sektor non-batubara, serta komitmen untuk mencapai netral karbon pada 2050.

Aspirasi EMI adalah untuk menjadi leader dalam industri kendaraan listrik di Indonesia dan menjadi pelopor dan penggerak dalam terbentuknya ekosistem green mobility yang ramah lingkungan. Visi EMI menjadi sebuah mobility solution provider.

Transisi perluasan investasi dan diversifikasi bisnis Indika Energy ke arah energi terbarukan dan industri non-batubara merupakan bagian dari komitmen untuk memberikan energi bersih bagi Indonesia yang berkelanjutan. Indika Energy terus berupaya mengeksplorasi berbagai sumber daya dan potensi bisnis, termasuk terus mengembangkan entitas non-batubara seperti Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS), Indika Multi Properti (IMP), Interport Mandiri Utama, Indika Digital Teknologi, Indika Mineral Investindo dan Electra Mobilitas Indonesia (EMI).

Pendirian Electra Mobilitas Indonesia (EMI) pada April 2021 lalu didasari semangat Indika Energy untuk mendukung penurunan emisi di tanah air melalui pengembangan industri kendaraan listrik nasional. EMI melihat prospek kendaraan listrik khususnya roda dua, yang cerah di masa depan. Kelebihan utama dari kendaraan listrik yaitu sangat ramah lingkungan, sehingga penggunaan kendaraan listrik akan membuat bahaya polusi udara semakin berkurang dan akan menekan penggunaan bahan bakar minyak.

“Sudah saatnya Indonesia, sebagai salah satu negara dengan penjualan motor terbesar di dunia, memiliki produsen motor yang mumpuni. Sebuah kebanggaan bagi saya untuk menjadi bagian dari EMI yang berkomitmen memproduksi motor yang ramah lingkungan, high-tech, dan mampu menciptakan perubahan yang positif bagi bangsa Indonesia. Konsumen yang membeli produk EMI ini bukan membeli sebuah motor, tapi menjadi bagian dari gaya hidup EMI yang akan mendisrupsi dunia otomotif Indonesia”, tutur Bayu Pangestu, Head of Sales and After Sales EMI. Saat ini EMI yang didukung oleh lebih dari 20 orang karyawan dengan berbagai keahlian di bidangnya  saling bekerjasama dan berkolaborasi untuk menghasilkan kendaraan listrik yang sesuai dengan karakter konsumen Indonesia.

EMI bertujuan untuk mengakselerasi pasar motor listrik dan ekosistemnya juga merupakan kontribusi kami terhadap penurunan kadar emisi nasional.

“Aspirasi EMI adalah untuk menjadi leader dalam industri kendaraan listrik di Indonesia dan menjadi pelopor dan penggerak dalam terbentuknya ekosistem green mobility yang ramah lingkungan. Visi EMI bukan saja menciptakan motor listrik yang menarik dan sesuai dengan konsumen Indonesia, namun juga menjadi sebuah mobility solution provider, di mana customer experience merupakan sebuah point yang sangat penting dan approach secara menyeluruh terhadap semua hal termasuk ekosistem motor listrik perlu diperhatikan dan dicermati”, ungkap Rahmat Septriwan, Chief Operating Officer EMI.

Baru-baru ini, bersama PT Industri Baterai Indonesia (IBC), Hon Hai Precision Industry Co. Ltd. (Foxconn), Gogoro Inc. dan Indika Energy telah menandatangani MoU untuk mengembangkan industri kendaraan listrik nasional. Diharapkan nantinya kerjasama ini juga meluas hingga ekosistem kendaraan listrik yang komprehensif di Indonesia serta pengembangan industri kendaraan listrik roda 4, kendaraan listrik roda 2, dan bus listrik. Setelah penandatanganan MoU ini akan dilanjutkan tahapan feasibility study untuk melihat proyek lebih detail lagi. 

Bahkan di tahun 2022 ini, EMI juga berencana meluncurkan motor listrik yang diharapkan dapat menjadi salah satu solusi mobilitas yang berkelanjutan di Indonesia.

“EMI bertujuan untuk mengakselerasi pasar motor listrik dan ekosistemnya sehingga dapat menjadi salah satu merek utama di industri kendaraan listrik nasional. Hal ini juga merupakan kontribusi kami terhadap penurunan kadar emisi nasional dan mendukung upaya kami untuk menjadi perusahaan dengan net-zero emissions di tahun 2050. Kami berharap ke depannya Indonesia bisa menjadi salah satu negara pengembang ekosistem kendaraan dan baterai listrik terdepan, dengan rantai pasokan yang lengkap dan bersaing,” tutur Azis Armand, Wakil Direktur Utama dan CEO Grup Indika Energy

Kategori
Tak Berkategori

Akhirnya resmi : Foxconn Bikin Industri Mobil Listrik Rp 114 T di Batang

 1,246 total views

Foxconn, perusahaan perakit handphone iPhone dari Taiwan resmi investasi di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah. Penandatanganan perjanjian investasi sudah dilakukan pada awal Januari 2022.

“Awal bulan kami sudah tandatangan MoU dengan Foxconn. Jadi Foxconn akan masuk di batang,” kata Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Senin (31/1/2022).

Bahlil menyatakan Foxconn bakal memperkaya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Perusahaan itu akan membuat motor dan mobil listrik, juga komponen baterai kendaraan listrik.

Bukan cuma itu, Foxconn juga bakal memindahkan sebagian volume pabrik sparepart telekomunikasi ke Indonesia dari China. Bahlil mengaku tidak mudah untuk mencapai kesepakatan investasi ini.

“Ini perintah Bapak Presiden katanya dari awal nggak jalan-jalan. Kami waktu itu datang ketauan ada negara yang mungkin memprotes kehadiran saya di sana, tapi saya bilang selama tidak ada UUD yang melarang kita dagang, kenapa harus takut kepada negara tertentu,” tegasnya.

Baca artikel detikfinance, “Resmi! Foxconn Bikin Industri Mobil Listrik Rp 114 T di Batang” selengkapnya https://finance.detik.com/industri/d-5922784/resmi-foxconn-bikin-industri-mobil-listrik-rp-114-t-di-batang.

Kategori
Tak Berkategori

RI Punya Mobil Otonom MEVi-TDS

 472 total views

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik (OR IPT) mengembangkan moda transportasi tanpa pengemudi yang ramah lingkungan, MEVi-TDS. Wah, bakal saingi mobil Tesla kepunyaan Elon Musk?

MEVi-TDS singkatan dari Micro Electric Vehicle-Teleoperated Driving System. Secara desain, kendaraan ini memang tidak sebesar Tesla, tetapi BRIN mengatakan bahwa MEVi-TDS ini simply futuristic.

Pengembangan kendaraan listrik sebelumnya difokuskan pada penguasaan teknologi komponen kunci seperti motor listrik, battery, control system/power electronics, platform dan charging system.

“Sedangkan Prioritas Riset Nasional (PRN) Kendaraan Listrik 2020-2024 berfokus pada penguasaan teknologi kunci kendaraan otonom, seperti sistem deteksi objek/sensor, sistem telekomunikasi, human to vehicle interaction, computer vision, dan sebagainya,” ujar Kepala Organisasi Riset IPT BRIN, Budi Prawara dalam siaran persnya.

Baca artikel detikinet, “Elon Musk Punya Mobil Tesla, RI Punya Mobil Otonom MEVi-TDS” selengkapnya https://inet.detik.com/science/d-5945829/elon-musk-punya-mobil-tesla-ri-punya-mobil-otonom-mevi-tds.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Kategori
Tak Berkategori

2040 : Kendaraan BBM Berhenti Dijual, RI Banjir Investasi Mobil Listrik

 1,164 total views

Indonesia kebanjiran investasi pada sektor industri kendaraan listrik. Mulai dari pabrik pembuatan baterainya sampai ke pembuatan kendaraannya.

Mobil listrik sendiri memang direncanakan untuk diperbanyak jumlahnya di Indonesia. Hal ini masuk ke dalam komitmen nol emisi karbon atau net zero emission (NZE) pada 2060, komitmen itu membuat Indonesia harus lebih banyak menggunakan energi baru terbarukan untuk mengurangi emisi.

Rencananya di tahun 2030 ada 2 jutaan mobil listrik dan 13 jutaan motor listrik yang wira-wiri di Indonesia. Kendaraan-kendaraan ini akan menggantikan kendaraan berbahan bakar bensin yang rencananya dihentikan penjualannya mulai dari tahun 2040.

Dalam catatan detikcom, saat ini Indonesia sedang dibanjiri investasi pabrik baterai listrik. Yang sudah muncul ke publik ada 3 perusahaan internasional yang mendekati Indonesia.

selengkapnya,…

Baca artikel detikfinance, “Kendaraan BBM Berhenti Dijual di 2040, RI Banjir Investasi Mobil Listrik” selengkapnya https://finance.detik.com/industri/d-5772328/kendaraan-bbm-berhenti-dijual-di-2040-ri-banjir-investasi-mobil-listrik.

Kategori
Tak Berkategori

Kebijakan Akomodatif Kendaraan Listrik

 958 total views

Nada optimisme tentang mobil listrik ditunjukkan melalui Catatan Urban Harian Kompas berjudul Macet Sekarang Tak Mengapa, Asal Pakai Mobil Listrik yang ditulis oleh Neli Triana pada 25 September 2021. Artikel ini mengajak kita untuk mengubah pandangan dalam menyambut tren energi terbarukan yaitu mobil listrik, yang diprediksi akan meningkat drastis pada beberapa tahun ke depan.

Salah satu dampak positif yang muncul jika menggunakan mobil listrik yaitu mengurangi tingkat kendaraan bertenaga fosil sehingga menurunkan potensi pemanasan global maupun polusi. Catatan akhir penulis agar mobil listrik menjadi populer ialah concern terhadap desain mobil yang lebih fungsionalis dan penggunaan tenaga listrik yang lebih kecil.

Kendati demikian, Indonesia menghadapi tantangan serius dalam mewujudkan penggunaan kendaraan bertenaga listrik. Catatan historis menunjukkan tentang inovasi kendaraan bertenaga listrik yang fluktuatif selama kurun beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh, inovasi kendaraan bertenaga listrik bernama ESEMKA. ESEMKA pertama kali muncul di kalangan publik ketika presiden Jokowi menduduki jabatan Wali Kota Solo. Gebrakan ini disambut positif oleh seluruh pihak kala itu. Perlahan, kabar ESEMKA hilang ditelan bumi pada 2012-2014.

Menjelang Pemilu 2014, ESEMKA kembali menjadi topik perbincangan. Tetapi, produksi dan penggunaan ESEMKA terhenti begitu saja (CNN Indonesia, 2021). Esemka Telantar Saat Jokowi Gaungkan Benci Produk Asing.

Dua catatan di atas menunjukkan dua hal yang sangat kontradiktif. Pada satu sisi, kita didorong untuk menggunakan kendaraan bertenaga listrik. Pada sisi lainnya, kita melihat industri untuk memproduksi kendaraan bertenaga listrik tidak berjalan. Artinya, kesinambungan di antara keduanya tidak bertemu. Lantas, bagaimana langkah yang tepat agar inovasi kendaraan bertenaga listrik dapat berjalan sukses? Hal apakah yang perlu diperhatikan?

Kebijakan Akomodatif

Dalam studi inovasi, terdapat salah satu pendekatan bernama Multi-Level Perspective (MLP). Pendekatan ini mulai dikenal luas pada 1998 melalui studi dari Arie Rip dan René Kemp (Whitmarsh, 2012). Gagasan ini dikembangkan pada 2002 oleh Frank W. Geels dengan membawa ide tentang tiga tingkat analitik dalam kerangka kerja MLP.

Pada level makro, itu disebut sebagai landscape. Ide dasar landscape mengungkapkan kondisi eksternal yang mempengaruhi rezim dan niche. Misalnya, perkembangan politik, ekonomi, dan pola mendalam budaya. Pada level meso, Geels memberikan istilah rezim. Rezim menggambarkan kegiatan kelompok sosial untuk mengambil peran, memelihara dan menghubungkan ke teknis sosial. Misalnya, pengguna, ilmuwan, pembuat kebijakan, dan kelompok kepentingan.

Pada level mikro, dirinya menyebutkan istilah niche. Niche menjelaskan sebagai proses internal, seperti pembelajaran atau penelitian melalui pengalaman. Ide dasarnya adalah tentang bagaimana inovasi dapat berkembang. (Poppink, 2016). Geels menjelaskan bahwa Niche diartikan sebagai ‘ruang inkubasi’. Berbagai akumulasi niche disebut sebagai inovasi radikal karena statusnya yang lambat laun dapat mengubah kondisi dalam masyarakat. (Geels, 2002)

Kerangka di atas kemudian kita kontraskan dengan kondisi Indonesia. Kondisi landscape global saat ini memperlihatkan dukungan untuk kendaraan bertenaga terbarukan dengan dibuktikan oleh meningkatnya penggunaan mobil Tesla. Tesla telah menjelma menjadi salah satu kendaraan bertenaga listrik yang tengah banyak digunakan.

Niche merespons kondisi landscape dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan banyaknya kelompok sosial yang melakukan proses internalisasi, salah satunya naiknya gagasan kendaraan bertenaga listrik bernama Gesits. Gesits adalah hasil kolaborasi antara akademisi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan sektor privat (Muzaki, 2020).

Permasalahan terletak pada level rezim. Pembuat kebijakan tidak meresponsnya dengan memberikan kebijakan akomodatif pada situasi landscape dan niche yang terus berkembang. Semisal, infrastruktur pengisian daya kendaraan bertenaga listrik. Sejauh ini, pengisian daya kendaraan listrik hanya dapat ditemukan pada sejumlah titik. Hal ini sangat kontradiktif dengan situasi di negara lain, semisal Belanda.

Di Belanda, infrastruktur pengisian tenaga listrik dapat kita temui dengan sangat mudah. Kebijakan pemerintah sangat akomodatif. Sebab ini yang kemudian mendorong warga Belanda untuk menggunakan kendaraan bertenaga listrik.

Keberhasilan Inovasi

Kerangka kerja Geels menekankan pada dimensi transisi teknologi (TT); kebutuhan masyarakat dipengaruhi oleh perubahan teknologi (Geels, 2002). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada status dinamis dalam inovasi; para aktor menciptakan jaringan dan membangun visi bersama tentang bagaimana teknologi baru harus dikembangkan.

selengkapnya…

Baca artikel detiknews, “Kebijakan Akomodatif Kendaraan Listrik” selengkapnya https://news.detik.com/kolom/d-5766155/kebijakan-akomodatif-kendaraan-listrik.

Kategori
Tak Berkategori

240 Unit : Total Kini Tempat Ngecas Mobil Listrik Bertambah Terus

 1,062 total views

Pemerintah terus menggenjot infrastruktur untuk mendukung kendaraan listrik. Salah satunya dengan memperbanyak fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperbanyak Infrastruktur Pengisian Listrik (IPL) untuk mendukung ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Pada semester I/2021, jumlah IPL KBLBB mencapai 240 unit dari target 390 unit terpasang di seluruh Indonesia sampai dengan akhir tahun 2021.

“Penambahan infrastruktur pengisian kendaraan listrik ini untuk menunjang akses serta mempermudah pengguna kendaraan listrik. Diharapkan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk menggunakan kendaraan listrik,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Munir Ahmad, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/9/2021).

Infrastruktur pengisian kendaraan listrik ini ditempatkan di pusat perbelanjaan, kantor PT PLN (Persero), Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU), gelanggang olahraga, bandara, ruas tol, perkantoran, dealer resmi, hingga pool taksi.

“Sebanyak 240 unit infrastruktur tersebut terdiri dari 166 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan instalasi privat electric vehicle (EV) charging station, serta 74 Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU),” ujar Munir.

Kementerian ESDM juga telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2020 tentang Penyediaan Infrastruktur Pengisian Listrik untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai demi mendukung kendaraan listrik. Permen ESDM tersebut mengatur tanggung jawab badan usaha, proses perizinan, skema listrik, tarif tenaga listrik, insentif, hingga keselamatan berusaha.

sumber : Tim detikcom – detikOto

https://oto.detik.com/berita/d-5717216/tempat-ngecas-mobil-listrik-bertambah-terus-total-kini-240-unit?_ga=2.160739069.110624151.1631269657-1793998519.1631269647